Connect with us
https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Politik

Sumpah Pemuda, Gus Nabil: Energi Pemuda Perlu Disalurkan untuk Bangun Indonesia

Published

on

RRJateng – Energi kreatif pemuda Indonesia sangat besar, dan memiliki potensi luar biasa.

Demikian disampaikan Ketua Umum PP Pagar Nusa, Muchamad Nabil Haroen, menyikapi Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2019, pada hari ini, Senin (28/10/2019).

“Secara pribadi, saya melihat betapa energi kreatif pemuda Indonesia sangat besar dengan potensi yang luar biasa. Ketika silaturahmi dan menyapa teman-teman muda dari Aceh hingga Papua, pemuda-pemuda Indonesia punya sumber daya kreatif yang melimpah, namun perlu didukung untuk peningkatan kualitasnya,” kata anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan yang akrab disapa Gus Nabil, di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (28/10/2019).

Selain itu, dia juga menyoroti potensi diaspora muda yang tersebar di luar negeri. Menurut Gus Nabil, mereka secara pengetahuan, teknologi dan ekonomi juga memiliki potensi yang sangat besar.

Ketika berkunjung ke China, Taiwan, Hongkong, Korea, Timur Tengah, serta beberapa negara Eropa, dia bertemu dengan pemuda-pemuda Indonesia yang sedang belajar, mengerjakan riset serta bekerja profesional.

Mereka tegasnya perlu disapa, sebab sebagai anak bangsa, diaspora muda yang tersebar di luar negeri tersebut juga merindukan saluran pengabdian yang tepat untuk bangsa Indonesia.

“Pemuda-pemuda ini tidak ingin hanya diberlakukan sebagai angka statistik dalam tabel devisa, neraca ekonomi maupun angka-angka tenaga kerja. Mereka ingin mengabdi, mereka ingin menjadi bagian menumbuhkan energi Indonesia,” kata Gus Nabil.

Pada bagian lain, menurutnya Indonesia menghadapi tantangan bonus demografi dalam beberapa tahun mendatang. Media-media di negeri ini sudah melaporkan bagaimana tantangan sekaligus peluang bonus demografi ini.

Nah, sudah menjadi tugas semua pihak untuk bersama-sama mengawal agar bonus demografi ini menjadi peluang yang dapat menghasilkan keuntungan dan keberuntungan baik dari sisi ekonomi maupun kualitas sumber daya manusia.

Apalagi, menurutnya jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2019 ini diproyeksikan mencapai 266,91 juta jiwa. Hal ini didasarkan pada survei penduduk antar sensus (Supas) tahun 2015.

Dari angka ini, kata Gus Nabil, sejumlah 134 juta laki-laki, sedangkan 132,89 juta berjenis kelamin perempuan. Penduduk usia muda dari jumlah angka ini, yakni 68 persen dari total populasi. Indonesia saat ini sedang menikmati menjadi masa bonus demografi, yang mana penduduk usia produktif lebih banyak daripada penduduk usia tidak produktif.

Rasio ketergantugan peduduk Indonesia saat ini mencapai 45,56 persen, dengan demikian dapat dimaknai bahwa setiap 100 orang yang berusia produktif (angkatan kerja) punya tanggungan 46 penduduk usia kurang produktif (yakni usia 0-14 tahun atau 65 tahun ke atas).

“Bonus demografi ini haruslah ditangani dengan baik, terstruktur dan terintegrasi dengan rencana pemerintah masa mendatang,” kata lagi.

Di sisi lain, kata Gus Nabil, Presiden Joko Widodo dan Wapres Ma’ruf Amin, sadar betul dengan potensi bonus demografi dan tantangan sumber daya ini. Makanya pada formasi Kabinet Indonesia Maju direkrut menteri-menteri usia muda dengan kiprah di bidang teknologi, ekonomi dan pengetahuan.

Bahkan, Presiden Jokowi menunjuk Nadiem Makarim menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Nadiem dikenal karena sukses mengembangkan GoJek sebagai perusahaan decacorn dengan valuasi tinggi. Meski dengan skala pertumbuhan masifnya, GoJek dan kepemimpinan Nadien Makarim juga perlu kritik untuk penyeimbang.

Hal itu perlu dilakukan mengingat dalam lanskap global sekarang ini muncul aspirasi publik dari kelompok pemuda dengan gelombang yang semakin membesar.

“Kita bisa melihat gelombang demonstrasi dari Hongkong hingga Chile, dari Lebanon hingga Barcelona” kata Gus Nabil.

Bahkan dari berbagai kanal informasi, dia melanjutkan, publik menyaksikan bagaimana energi pemuda-pemuda di Hongkong yang terus berdemonstrasi dalam periode yang lama. Mereka punya energi besar, terkoneksi dengan jaringan internet, punya pola koordinasi yang ringkas, serta bisa memainkan strategi kampanye sekaligus manajemen isu melalui media sosial.

Di berbagai kawasan di dunia, pemuda-pemuda ini punya pengalaman dalam berbagai ketegangan keamanan maupun kepahitan ekonomi global. Pemuda-pemuda di beberapa negara Amerika Latin dan Eropa, merasakan terpaan krisis finansial tahun 2008 yang berdampak langsung dengan pekerjaan orang tua atau keluarga mereka.

Program-program pemerintah yang merespon krisis ekonomi, juga berdampak langsung dengan skema pendidikan, asuransi kesehatan dan inflasi kebutuhan pokok keluarga. Pemuda-pemuda ini merasakan langsung betapa cengkeraman ekonomi global, program pengetatan dan penghematan (austerity), serta pemangkasan subsidi untuk asuransi kesehatan.

Sementara, di beberapa negara Timur Tengah, pemuda-pemuda punya pengalaman merasakan gelombang politik berupa Arab Spring. Terpaan efek Arab Spring merata hampir di semua negara-negara Timur Tengah: Mesir, Sudan, Libya dan beberapa negara lain.

Bahkan, gelombang demonstrasi juga pernah muncul di Turki pada masa awal kepemimpinan Erdogan, yang dialami oleh pemuda-pemuda yang sekarang ini berusia di bawah 25 tahun.

Simon Tisdall, kolumnis the Guardian Inggris, mengungkapkan bahwa fenomena anak-anak muda yang bergerak dan terlihat marah ini merupakan fenomena global.

“Fenomena global atas tidak tersalurkannya aspirasi anak-anak muda ini memproduksi bom waktu politik. Setiap bulan di India, satu juta penduduk menjadi berusia 18 tahun serta punya hak untuk ikut pemilihan umum. Sementara di Timur Tengah dan Afrika Utara, sekitar 27 juta pemuda akan memasuki usia kerja sekitar lima tahun mendatang,” tulis Tisdall di the Guardian pada (27/10/2019).

Gus Nabil menegaskan untuk Indonesia, pihaknya tidak ingin energi pemuda-pemuda negeri ini bergeser menjadi energi kemarahan.

“Untuk pemuda-pemuda Indonesia, kita haruslah menyuarakan aspirasi dengan kanal-kanal yang telah tersedia secara sehat, transparan dan terukur. Marilah menjadikan ‘energi kemarahan’ ini menjadi energi kreatifitas, inovasi, serta produktifitas untuk membangun negeri. marilah kita menjadi pemuda, menjadi Indonesia,” kata Gus Nabil. [realitarakyat.com]

Loading...
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Politik

Ketua DPR Pastikan Mitra Kerja Komisi Tidak Akan Ganda

Published

on

Continue Reading

Politik

AHY Lebih Cocok Jadi Oposisi Daripada Menteri

Published

on

Continue Reading

Politik

Bertemu Mega, Gibran Juga Bahas Keinginan Maju di Pilwakot Solo

Published

on

Continue Reading